Asuhan Keperawatan Pada Pasien Curiga


Asuhan Keperawatan Pada Pasien Curiga

DEFENISI

Perilaku curiga adalah gangguan keyakinan seseorang yang berdasarkan keyakinan yang salah yang dipertahankan secara kuat dan terus menerus namun tidak sesuai dengan kenyataan atau realitas yang salah pada saat berhubungan dengan orang lain dan lingkungan yang ditandai dengan persaan tidak percaya dan ragu-ragu.Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien .


ETOLOGI

 

1.Teori Psikodinamika
Teori psikoanalitik berfokus pada hubungan anak dan orang tua, yangtidak memuaskan sejak dini, dengan proses berduka yang tak terselesaikan. Inimengakibatkan individual terfiksasi pada tahap marah, dari proses berduka, danmengarahkannya ke diri sendiri. Ego tetap lemah sementara superego menjadiluas dan menjadi sifat menghukum.

2.Teori Biologi
Karena adanya beberapa kekuatan/pengaruh dari beberapa penyakitkeluarga yang mempunyai gejala yang sama.
3.Teori Dinamika Keluarga
Karena orang tua yang terlalu pemarah, menuntut dan kaku, tidak percaya pada diri sendiri, mudah tersinggung.

PELAKSANAAN DAN PROSES KEPERAWATAN

Pelaksanaan proses keperawatan berorientasi pada masalah yang timbul pada klien. Pada bab ini akan menyampaikan secara singkat mengenai pelaksanaan proses keperawatan yang meliputi : Diagnosa Keperawatan, Tujuan jangka panjang, Intervensi, Evaluasi dan tindak lanjut. Adapun proses keperawatan secra lengkap ada pada lampiran.

1. Diagnosa keperawatan I : Potensial melukai diri sendiri/ orang lain s/d ketidak mampuan klien mengungkapkan marah secara konstruktif.

Tujuan Panjang :
• Tidak melukai orang lain/ diri sendiri serta mampu mengungkapkan marah secara konstruktif.
Intervensi :
• Membina hubungan saling percaya dengan klien .
• Memelihara ketenangan lingkungan, suasana hangat dan bersahabat.
• Mempertahankan sikap perawat secara konsisten.
• Mendorong klien untuk mengungkapkan hal-hal yang menyebabkan klien marah.
• Mendiskusikan dengan klien tentang tanda-tanda yang biasa terjadi pada orang yang sedang marah.
• Mendorong klien untuk mengatakan cara-cara yang dilakukan bila klien marah.
• Mendiskusikan dengan klien cara mengungkapkan marah secara konstruktif.
• Mendiskusikan dengan keluarga ( pada saat kunjungan rumah ) tentang marah pada klien , apa yang sudah dilakukan bila klien marah dirumah bila klien cuti.
Evaluasi :
• Klien mau menerima petugas (mahasiswa ), dan membalas salam.
• Berespon secara verbal.
• Membalas jabat tangan, mau diajak berbicara.
• Klien mampu mengungkapkan penyebab marahnya.
• Klien dapat mengenal tanda-tanda marah.
• Klien mengatakan kalau amuk itu tidak baik.
• Klien dapat memperagakan tehnik relaksasi.
Tindak lanjut :
• Melanjutkan untuk latihan marah yang konstruktif dengan tehnik relaksasi, tehnik asertif.
2. Diagnosa keperawatan II : Gangguan hubungan sosial; menarik diri sehubungan dengan curiga.

Intervensi :
• Membina hubungan saling percaya.
• Bersikap empati pada klien.
• Mengeksplorasi penyebab kecurigaan pada klien .
• Mengadakan kontak sering dan singkat.
• Meningkat respon klien terhadap realita.
• Memberikan obat sesuai dengan program terapi dan mengawasi respon klien.
• Mengikut sertakan klien dalam TAK sosialisasi untuk berinteraksi.
Evaluasi :
• Klien mampu mengeksplorasi yang menyebabkan curiga.
• Klien disiplin dalam meminum obat sesuai program terapi.
Tindak lanjut :
• Teruskan untuk program sosialisasi/ interaksi klien untuk mengurangi kecurigaan.
3. Diagnosa Keperawatan III : Penampilan diri kurang s/d kurang minat dalam kebersihan diri.

Tujuan Panjang :
• Penampilan klien rapi dan bersih serta klien mampu merawat kebersihan diri.
Intervensi :
• Memperhatikan tentang kebersihan klien .
• Mendiskusikan dengan klien tentang gunanya kebersihan.
• Memberikan reinforsemen positif apa yang sudah dilakukan klien.
• Mendorong klien untuk mengurus kebersihan diri.
Tindak lanjut :
• Perlu dilanjutkan dengan TAK tentang kegiatan sehari-hari.
• Berikan motivasi agar klien mau merawat diri.